Saat Masih Berstatus Mahasiswa Baru

 

(Foto:Istimewa


Oleh : M. Rozien Abqoriy*

Saat masih berstatus Mahasiswa baru (maba), sempat dikhawatirkan dengan pernyataan yang saya anggap sebagai sesuatu yang kurang memiliki arti mendasar. Seperti apabila ikut organisasi tertentu dalam kampus tertentu, tidak akan mendapatkan tempat yang layak dan posisi apapun. 

Tersenyum manis saja saya menanggapinya. Karena selepas membaca, melihat dan mencari tau sendiri, dan disesuaikan dengan keinginan dalam berproses di kampus dan organisasi. Tidak sedikitpun tercantum dalam draft keinginan untuk persoalan posisi. 

Hasil membaca dan mengamati sendiri, serta sudah menghasilkan sintesis tersendiri. Terkadang memang kapasitas ataupun kapabilitas, selalu tidak berbanding lurus dengan posisi tanggung jawabnya yang ia emban dan diperebutkan, lebih-lebih yang dianggap sebagai prestasinya tersebut. 

Sehingga pemikiran saya di awal, karena memang semua itu hanya akan menjadi cerminan, bahwa potensi masa depan itu, dapat dicerminkan dari bagaimana mereka di pertengkarkan bukan dari persoalan kelayakan/baik/buruknya. Melainkan, apakah sebagian dari mereka itu telah memiliki latar belakang yang sama atau tidak. Genius tapi miris, bukan miris tapi genius. 

Genius tapi miris adalah suatu istilah yang menggambarkan cara yang cerdik tapi culas, dan tanpa nilai. Sebenernya hal itu telah diketahui oleh si pemeran, bahwa sejatinya hanya merugikan diri sendiri. 

Sedangkan, miris tapi genius adalah suatu istilah yang menggambarkan tentang kemirisan suatu keadaan, seperti orang-orang tertentu yang kelihatannya kurang layak dari segi fisik, atau hanya karena baground tertentu yang berupa perbedaan daerah ataupun perbedaan warna ideologis, untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Padahal, potensi berupa komitmen, pengalaman, skill, pengetahuan, dan relasi, yang semua itu sebenernya masih bisa dikembangkan secara intensif, dan merupakan suatu hal yang cukup genius. 

Penulis menyadari dan menghormati dengan senang hati, memang benar apa yang dikatakan salah satu penulis Amerika Serikat Mary Catherine Bateson, kita bukanlah apa yang kita ketahui, tetapi apa yang mau kita pelajari. 

Pemahaman ini mampu menjadi referensi, saat menjadi bagian dari eksplorer kehidupan, karena cukup memberikan penegasan bahwa tidak hanya dengan posisi, jabatan dan lain sebagainya yang dapat menentukan siapa diri kita. Padahal hal itu hanya mengakibatkan kita untuk membatasi diri, hanya karena kita beranggapan tentang apa yang diketahui itu sudah cukup benar. Kita lupa, sebenernya hal tidak benar sama sekali. 

Diri kita sejatinya, dapat ditentukan dengan komitmen yang akan kita buktikan, melalui kesadaran yang tinggi, terutama dalam keinginan untuk mempelajari apapun yang kita mau dalam hidup, terlebih di dunia kampus. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saudara MABA, Ingat Ini !!

Pelajaran Kepemimpinan dari Imam Masjid